Keadilan Dalam Islam
(Petikan dari buku Al-'Adl Fil Islam oleh Al-Syahid Murtadha Mutahhari, Terbitan Muassasah Al-Bi'thah, Teheran) Kandungan Perbahasan: Menyelewengnya Kaum Muslimin Dari Keadilan Ilahi Keadilan IlahiKebaikan dan Kejahatan Bersifat Rasional Pengaruh Amalan dan Sosial Kebaikan dan KejahatanEmpat Dalil Kelompok AdaliyyinDalil-dalil Yang MemalukanPara Pemenang Adalah Golongan Yang Engkar Kepada Prinsip Keadilan Pengertian " Sunni"Madzhab Orang Awam Asy'arisme Islam dan Sofis YunaniKonflik Di antara Prinsip Pemikiran Jumud dan Kaku Dengan Rasionalisme Imam Ali AS Adalah Korban Kepada Pemikiran Jumud Dan Kaku Golongan KhawarijSyarat-syarat Amar Ma'rufAmar Ma'ruf Dari Sudut Pandangan Golongan KhawarijMusibah Golongan Khawarij Kepada Islam Ketika sebuah pertanyaan muncul: Mengapa keadilan itu tidak ditegakkan walaupun Islam menekankannya sebagai salah satu prinsip Usuluddin Islam, bahkan masyarakat Islam dicengkam dengan kezaliman yang sangat kejam dan dengan ketiadaan keadilan dan persamaan?
Ketika persoalan ini timbul pada benak kita, maka yang segera muncul adalah bahawa yang bertanggungjawab dalam hal ini adalah sejumlah khalifah yang tidak melaksanakan prinsip Islam ini. Padahal, seharusnya penerapan prinsip ini dimulai oleh para khalifah Muslimin danm para pemimpin mereka. Tetapi mereka justeru memiliki niat-niat yang jahat, yang tidak sesuai dengan kedudukan besar itu. Akibatnya masyarakat Islam ditimpa berbagai kezaliman, penidasan, dan diskriminasi.
Jawapan ini dapat diterima. Sejarah para khalifah Umayyah dan Abbasiyyah merupakan petunjuk terbaik kepada hal tersebut.
Hanya sahaja keadilan itu bukan satu-satunya alasan. Ada alasan lain yang lebih tepat atau paling tidak, alasan yang akan saya kemukakan ini tidak lebih sedikit pengaruhnya daripada yang tersebut di atas. Inilah yang ingin saya bahas di dalam tema ini. Alasan itu adalah bahawa sejumlah besar ulama Islam telah melakukan kesalahan dalam menafsirkan keadilan Islam. Sekelompok ulama yang lain memang telah berupaya meluruskannya, namun mereka tidak berdaya.
Sistem yang agung, sebagaimana keadilan ini, pertama, harus ditafsirkan dengan bentuk yang baik pula. Lantaran tidak ditafsirkan dengan baik, maka mereka yang hendak menegakkannya dengan baik menjadi tidak mampu melakukannya. Apabila para penafsir menafsirkannya sesuai dengan maksud buruk para pelakunya, maka bererti mereka telah menolongnya, melayaninya, dan menjauhkannya dari pusingan, termasuk konflik dengan manusia lain, sama ada para penafsir itu memang bermaksud mengkhianati manusia, ataupun tidak. Penafsiran yang buruk itu melahirkan sistem yang sesuai dengan kefahaman mereka.
Pada kenyataannya, hal inilah yang terjadi dengan penafsiran keadilan. Kebanyakan orang yang mengengkari keadilan sebagai prinsip Islam ini sebenarnya mereka tidak berniat buruk dalam menafsirkannya. Pandangan dangkal yang bersifat ta'abbudi merekalah yang menyebabkan kaum Muslimin ditimpa dua musibah seperti sekarang. Pertama, buruknya niat dalam menegakkan dan menerapkan keadilan adalah disebabkan sejak awal lagi khalifah tidak diletakkan pada garis yang benar - mendahulukan orang Arab daripada bukan Arab, dan mendahulukan kabilah Quraisy daripada kabilah-kabilah lain. Mereka memanfaatkan kekuasaan sebahagian mereka untuk merampas kekayaan dan hak-hak orang lain, hingga tampuk khalifah itu dipegang oleh Ali AS yang bertujuan memerangi penyelewengan ini.
Kedua, musibah yang telah menimpa kita itu diakibatkan oleh tangan-tangan para ulama dangkal yang bersifat ta'abbudi, yang menyakini serangkaian pemikiran-pemikiran yang kontang, yang menerangkan dan menafsirkan keadilan dengan penafsiran yang salah, yang pengaruh-pengaruhnya masih terasa sampai ke hari ini.
No comments:
Post a Comment