Search This Blog

Thursday, September 25, 2008

Kisah Terima Kasih Nabi Ibrahim A.S.

Entah bila agaknya Nabi Ibrahim belajar untuk tidak tahu berterima kasih. Seingat saya, saat dia masih remaja. Mungkin jauh lebih anak-anak. Nabi Ibrahim sering bermain-main dengan patung kerana itulah pekerjaan keluarganya, membikin patung dan mempercayai berhala.

Kadang-kala dalam permainannya ia menunggangi patung itu, langsung memperlakukannya sebagai keldai. Dan pada suatu hari, ayahnya melihat perilaku Ibrahim yang duduk di atas punggung patung bernama Mardukh. Ayahnya justeru marah, dan memerintahkan anaknya agar tidak bermain-main dengan patung itu lagi.

Ibrahim bertanya: "Patung apakah ini wahai ayahku? Kedua telinganya besar, lebih besar dari telinga kita."

Ayahnya menjawab: "Itu adalah Mardukh, tuhan para tuhan wahai anakku, dan kedua telinga yang besar itu sebagai simbol dari kecerdasan yang luar biasa."

Dan Ibrahim tertawa dalam hati padahal saat itu baginda hanya berusia tujuh tahun.

Daripada Injil Barnabas tersampailah kisah benar bahawa Nabi Ibrahim mengejek ayahnya saat beliau masih kecil. Suatu hari, Ibrahim bertanya kepada ayahnya: "Siapa yang menciptakan manusia wahai ayahku?" Si ayah menjawab: "Manusia, karena akulah yang membuatmu dan ayahku yang membuat aku." Ibrahim justeru menjawab: "Tidak demikian wahai ayahku, karena aku pernah mendengar seseorang yang sudah tua yang berkata: "Wahai Tuhanku mengapa Engkau tidak memberi aku anak."

Si ayah berkata: "Benar wahai anakku, Allah yang membantu manusia untuk membuat manusia namun Dia tidak meletakkan tangan-Nya di dalamnya. Oleh karena itu, manusia harus menunjukkan kerendahan di hadapan Tuhannya dan memberikan korban untuk-Nya."

Kemudian Ibrahim bertanya lagi: "Berapa banyak tuhan itu wahai ayahku?" Si ayah menjawab: "Tidak ada jumlahnya wahai anakku." Ibrahim berkata: "Apa yang aku lakukan wahai ayahku jika aku mengabdi pada satu tuhan lalu tuhan yang lain membenciku karena aku tidak mengabdi pada-Nya? Bagaimana terjadi persaingan dan pertentangan di antara tuhan? Bagaimana seandainya tuhan yang membenciku itu membunuh tuhanku? Boleh jadi ia membunuhku juga."

Si ayah menjawab dengan tertawa: "Kamu tidak perlu takut wahai anakku, karena tidak ada permusuhan di antara sesama tuhan. Di dalam tempat penyembahan yang besar terdapat ribuan tuhan dan sampai sekarang telah berlangsung tujuh puluh tahun. Meskipun demikian, belum pernah kita mendengar satu tuhan memukul tuhan yang lain." Ibrahim berkata: "Kalau begitu terdapat suasana harmonis dan kedamaian di antara mereka."Si ayah menjawab: "Benar."

Ibrahim bertanya lagi: "Dari apa tuhan itu diciptakan? Orang tua itu menjawab: "Ini dari kayu-kayu pelepah kurma, itu dari zaitun, dan berhala kecil itu dari gading. Lihatlah alangkah indahnya. Hanya saja, ia tidak memiliki nafas." Ibrahim berkata: "Jika para tuhan tidak memiliki nafas, maka bagaimana mereka dapat memberikan nafas? Bila mereka tidak memiliki kehidupan bagaimana mereka memberikan kehidupan? Wahai ayahku, pasti mereka bukan Allah." Mendengar ucapan Ibrahim itu, sang ayah menjadi berang dan marah sambil berkata: "Seandainya engkau sudah dewasa nescaya aku pukul dengan kapak ini. Anak tidak berterima kasih."

Nah, Nabi Ibrahim itu sendiri tidak berterima kasih...

Maka melihatkan keadaan itu, Azar bersiap-siap untuk memberi sponsor, semacam dana, supaya anaknya Ibrahim dapat belajar tentang patung-patung itu dan meneruskan perniagaan keluarga.

Harus sahaja Nabi Ibrahim menjadi pengampu dan mengucapkan terima kasih kepada Azar si pemahat berhala itu beratus kali. Tetapi tidak, remaja itu memang tidak tahu berterima kasih.

"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapanya Azar: 'Pantaskah kamu menjadikan berhala sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan Kami (memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku,' tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam.'" (QS. al-An'am: 74-76)

Oh mengapa seorang nabi boleh, oh bisa, tidak berterima kasih? Sungguh mengkagetkan! Tidak perlu berasa kaget tentunya, kerana Allah, Tuhan yang sebenar telah memberinya akal yang sihat. Dan akal yang sihat bisa berfikir. Dan kita dihadapkan dengan pesona keberanian Ibrahim yang telah mendapat pencerahan.


"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya? Mereka menjawab: 'Kami mendapati bapa-bapa Kami menyembahnya." Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya kamu dan bapa-bapamu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab: 'Apakah kamu datang kepada kami sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata: 'Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakan-Nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.'" (QS. al-Anbiya': 52-56)

Akan tetapi ya, hidayah tak dapat masuk ke dalam hati semua orang, apatah lagi hati memang tidak bersedia menerimanya. Dan apatah lagi memang akal sembab tidak berfikir, dan tidak dapat mencerna lojika.

Tetapi ya, terima kasih kepada Nabi Ibrahim kerana tidak tahu berterima kasih kepada pendananya, atau sang sponsor. Dia malah menjawab dan berhujah dengan bapanya, Azar pemahat berhala paling utama. Mungkin hari ini perdebatan dan hujah-hujah Ibrahim yang masih anak-anak itu terasa fasis sekali. Malah tindakannya memotong-motong berhala Azar, 'sang sponsor hidupnya' jauh lebih fasis lagi. Tetapi Nabi yang tidak tahu berterima kasih itulah Nabi yang berterima kasih akhirnya hingga sanggup mengorbankan anaknya Ismail.

"Dan sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui keadaannya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapanya dan kaumnya: 'Patung-patung itu apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya ?' Mereka menjawab: "Kami mendapati bapa-bapa kami menyembahnya.' Ibrahim menjawab: 'Sesungguhnya kamu dan bapa-bapamu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab: 'Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata: 'Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas apa yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.' Maka Ibrahim membuat berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.' Mereka berkata: 'Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata: '(Kalau demikian) Bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikannya.' Mereka bertanya: 'Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab: 'Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali kepada kesedaran mereka dan lalu berkata: 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata:, maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manafaat sedikit pun tidak dapat pula memberi mudarat kepada kamu?' Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Mereka berkata: 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kami jika kamu benar-benar hendak bertindak.'" (QS. al-Anbiya': 51-68)

Benar, Nabi Ibrahim dan Tuhannya, Allah Maha Benar, tidak berterima kasih itu juga satu hak yang harus ditunaikan. Punya bersungguh mereka mempertahankan ketidaklojikan sehingga menuduh Ibrahim sebagai orang yang zalim. Dan punya beria mereka menolak kebenaran sehingga mereka berduyun-duyun mempersiapkan unggun api nan besar untuk memaksa Ibrahim masuk ke dalam blok mereka.

Tetapi ya, tak semua mahu mengerti, seperti Azar, dibenam oleh akal anaknya sendiri, dia masih mahu mengampu dan berterima kasih kepada patung-patung ciptaan tangannya sendiri.

Nah, tidakkah itu sendiri satu insiden fasis yang mengkagetkan?

Wednesday, July 23, 2008

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak
Prof. DR.
Jalaluddin Rakhmat

Waktu itu, dini hari, di sebuah rumah sederhana. Rahman dan isterinya terbangun karena mendengar derak pintu terbuka. Dipasangnya telinganya tajam-tajam. Mereka yakin suara itu berasal dari kamar anaknya, yang berusia tujuh tahun. Langkah-langkah kecil, terdengar seperti berjingkat-jingkat, bergerak menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu. Mereka mendengar suara air mengalir yang disusul dengan suara gerakan membasuh. Langkah-langkah kecil itu kembali ke kamarnya. Walaupun sayup,karena dinihari yang hening, mereka mendengar suara bacaan Al-Quran. Anak itu rupanya sedang melakukan salat malam. Tiba-tiba keduanya merasakan air mata hangat membasahi pipinya.

Mengapa Rasulullah dirindukan dan dicintai?*



Rasulullah itu adalah orang yang sangat dicintai oleh para sahabatnya, umumnya para sahabat mencintai Rasulullah Saw, walau ada sebagian sahabat yang diam-diam membenci Rasulullah. Tetapi mayoritas sahabat itu sangat mencintai Rasulullah Saw.

Pernah suatu malam Rasulullah mendengar suara beberapa orang di luar kamarnya, Rasulullah menegur: “Kenapa kalian berkumpul di sini?” lalu mereka menjawab: “Ya Rasulullah, kami tidak bisa tidur khawatir ketika kami tidur nanti, orang-orang kafir datang dan membunuhmu.” Mereka sukarela menjadi satpam Rasulullah Saw, datang sendiri, tidak dibayar. Tetapi Rasulullah Saw mengatakan, “Tidak, Allah melindungi aku, pulanglah kamu ke tempat kamu masing-masing.”

Keadilan Ilahi

Keadilan Dalam Islam
(Petikan dari buku Al-'Adl Fil Islam oleh Al-Syahid Murtadha Mutahhari, Terbitan Muassasah Al-Bi'thah, Teheran)
Kandungan Perbahasan:
  • Menyelewengnya Kaum Muslimin Dari Keadilan Ilahi
  • Keadilan Ilahi
  • Kebaikan dan Kejahatan Bersifat Rasional
  • Pengaruh Amalan dan Sosial Kebaikan dan Kejahatan
  • Empat Dalil Kelompok Adaliyyin
  • Dalil-dalil Yang Memalukan
  • Para Pemenang Adalah Golongan Yang Engkar Kepada Prinsip Keadilan
  • Pengertian " Sunni"
  • Madzhab Orang Awam
  • Asy'arisme Islam dan Sofis Yunani
  • Konflik Di antara Prinsip Pemikiran Jumud dan Kaku Dengan Rasionalisme
  • Imam Ali AS Adalah Korban Kepada Pemikiran Jumud Dan Kaku
  • Golongan Khawarij
  • Syarat-syarat Amar Ma'ruf
  • Amar Ma'ruf Dari Sudut Pandangan Golongan Khawarij
  • Musibah Golongan Khawarij Kepada Islam
  • Ketika sebuah pertanyaan muncul: Mengapa keadilan itu tidak ditegakkan walaupun Islam menekankannya sebagai salah satu prinsip Usuluddin Islam, bahkan masyarakat Islam dicengkam dengan kezaliman yang sangat kejam dan dengan ketiadaan keadilan dan persamaan?

    Menyelewengnya Kaum Muslimin Dari Keadilan Ilahi

    Ketika persoalan ini timbul pada benak kita, maka yang segera muncul adalah bahawa yang bertanggungjawab dalam hal ini adalah sejumlah khalifah yang tidak melaksanakan prinsip Islam ini. Padahal, seharusnya penerapan prinsip ini dimulai oleh para khalifah Muslimin danm para pemimpin mereka. Tetapi mereka justeru memiliki niat-niat yang jahat, yang tidak sesuai dengan kedudukan besar itu. Akibatnya masyarakat Islam ditimpa berbagai kezaliman, penidasan, dan diskriminasi.

    Jawapan ini dapat diterima. Sejarah para khalifah Umayyah dan Abbasiyyah merupakan petunjuk terbaik kepada hal tersebut.

    Kesalahan Penafsiran

    Hanya sahaja keadilan itu bukan satu-satunya alasan. Ada alasan lain yang lebih tepat atau paling tidak, alasan yang akan saya kemukakan ini tidak lebih sedikit pengaruhnya daripada yang tersebut di atas. Inilah yang ingin saya bahas di dalam tema ini. Alasan itu adalah bahawa sejumlah besar ulama Islam telah melakukan kesalahan dalam menafsirkan keadilan Islam. Sekelompok ulama yang lain memang telah berupaya meluruskannya, namun mereka tidak berdaya.

    Sistem yang agung, sebagaimana keadilan ini, pertama, harus ditafsirkan dengan bentuk yang baik pula. Lantaran tidak ditafsirkan dengan baik, maka mereka yang hendak menegakkannya dengan baik menjadi tidak mampu melakukannya. Apabila para penafsir menafsirkannya sesuai dengan maksud buruk para pelakunya, maka bererti mereka telah menolongnya, melayaninya, dan menjauhkannya dari pusingan, termasuk konflik dengan manusia lain, sama ada para penafsir itu memang bermaksud mengkhianati manusia, ataupun tidak. Penafsiran yang buruk itu melahirkan sistem yang sesuai dengan kefahaman mereka.

    Pada kenyataannya, hal inilah yang terjadi dengan penafsiran keadilan. Kebanyakan orang yang mengengkari keadilan sebagai prinsip Islam ini sebenarnya mereka tidak berniat buruk dalam menafsirkannya. Pandangan dangkal yang bersifat ta'abbudi merekalah yang menyebabkan kaum Muslimin ditimpa dua musibah seperti sekarang. Pertama, buruknya niat dalam menegakkan dan menerapkan keadilan adalah disebabkan sejak awal lagi khalifah tidak diletakkan pada garis yang benar - mendahulukan orang Arab daripada bukan Arab, dan mendahulukan kabilah Quraisy daripada kabilah-kabilah lain. Mereka memanfaatkan kekuasaan sebahagian mereka untuk merampas kekayaan dan hak-hak orang lain, hingga tampuk khalifah itu dipegang oleh Ali AS yang bertujuan memerangi penyelewengan ini.

    Kedua, musibah yang telah menimpa kita itu diakibatkan oleh tangan-tangan para ulama dangkal yang bersifat ta'abbudi, yang menyakini serangkaian pemikiran-pemikiran yang kontang, yang menerangkan dan menafsirkan keadilan dengan penafsiran yang salah, yang pengaruh-pengaruhnya masih terasa sampai ke hari ini.


    Keadilan milik semua.

    Adil bermaksud meletakkan sesuatu pada tempatnya, lawan bagi kata adil ialah zalim yang bermaksud tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya.